Bahan Bakar Diesel

hi-cester-bio-01

PENDAHULUAN

Bahan bakar Solar (Diesel Fuel), merupakan bahan bakar utama di Indonesia yang digunakan pada mesin-mesin industri (kecil, menengah maupun besar). Konsumsi solar di Indonesia tahun 2012 mencapai lebih dari 44 Juta Kilo Liter dimana lebih dari 70% nya digunakan sebagai bahan bakar mesin industri, sisanya digunakan untuk bahan bakar kendaraan-kendaraan maupun keperluan-keperluan lainnya. Terdapat 2 (dua) jenis solar yang dijual di Indonesia, solar biasa (biasa disebut solar bersubsidi) maupun solar premium dengan disparitas harga yang cukup mencolok. Kedua jenis solar ini memiliki karakteristik yang berbeda.

Dalam bahasa kimia, istilah solar mengacu pada hasil penyulingan minyak bumi yang memiliki rantai karbon antara C10 sampai dengan C22 dengan perbandingan tertentu untuk mencapai kinerja yang ditetapkan. Seperti lazimnya hasil pengolahan minyak bumi, sangat sering terjadi perbandingan campuran yang diinginkan tidak bisa didapat hanya dari hasil penyulingan saja. Tetapi harus juga melalui pengolahan lebih lanjut untuk merekayasa campuran dalam solar agar tercapai kinerja solar sesuai dengan kriteria tetapan.

 

KRITERIA TETAPAN

Kriteria Tetapan adalah standar ketetapan internasional yang digunakan untuk menentukan kualitas dari bahan bakar solar. Kriteria tetapan tersebut adalah  :

  • Nilai Cetane & Opitmalisasi Pembakaran
  • Detergency (bersihnya mesin dari kerak)
  • Stability (tidak mudah teroksidasi)
  • Lubricity (pelumasan pada mesin)
  • Cold weather performance (daya tahan terhadap suhu agar tidak membeku)
  • Fuel system protection (system proteksi pada bahan bakar terhadap hal-hal tak terduga).

Walaupun kriteria ini sudah mencakup semua aspek untuk bahan bakar solar, tetapi standar yang digunakan adalah angka-angka dari laboratorium, sehingga banyak dari pengguna solar di Indonesia tidak bisa mengaitkan langsung kriteria tersebut dengan kenyataan di lapangan tentang kualitas solar yang dipakai dan hubungannya dengan mesin-mesin yang menggunakan solar tersebut. Hasil akhirnya adalah bahan bakar solar belum bisa dimanfaatkan secara optimum agar menghasilkan penghematan yang maksimum.

Untuk mereduksi kondisi-kondisi di atas, dibutuhkan pengetahuan tentang solar yang bisa memberikan gambaran yang lebih komprehensif kepada para pengguna solar dan aspek-aspek apa yang bisa direkayasa agar kualitas solar yang digunakan bisa meningkat dan sesuai dengan karakteristik solar yang dibutuhkan oleh mesin-mesin.

 

KARAKTERISTIK SOLAR

Sebelumnya marilah kita lihat tujuan paling dasar dari penggunaan bahan bakar solar pada mesin-mesin kendaraan maupun industri. Tujuan dasarnya adalah :

“Menghasilkan pembakaran yang paling sempurna sehingga menghasilkan power tertinggi yang bisa dihasilkan dalam bentuk energi gerak pada mesin tanpa melupakan aspek perawatan pada mesin dan mereduksi efek negatif dari hasil pembakaran tersebut terhadap manusia dan lingkungan sebesar mungkin”

Semua kriteria tetapan, semua aturan pasti mengacu pada tujuan dasar di atas. Tinggal kita tambahkan aspek ekonomi pada tujuan dasar tersebut, maka tujuan dasar tersebut menjadi arah pengembangan teknologi mesin-mesin berbasis solar maupun pengembangan teknologi bahan bakar solar itu sendiri.

Dengan berdasarkan pada Tujuan Dasar di atas, penentuan karakteristik solar yang baik akan disesuaikan dengan kebutuhan bahan bakar pada mesin-mesin kendaraan maupun industri berbasis solar. Karakteristik solar akan kita bagi 2 (dua), Karakteristik Utama dan Karakteristik Pendukung. Penjelasan kedua karakteristik ini dapat kita lihat di bawah ini.

 

Karakteristik Utama : Cetane Number (Nilai Setana) dan Kinetik Value (Nilai Kinetik)

Cetane Number didefinisikan sebagai kecepatan solar terbakar sendiri (self ignite) begitu solar diinjeksi dan diberi tekanan kompresi.

Kinetik Value didefinisikan sebagai besar energi ledak yang diubah menjadi energi gerak pada proses pembakaran dalam mesin.

Kinetik Value merupakan turunan dari Energy Content (Konten Energi) pada solar, yaitu besarnya kandungan energi pada solar. Secara rumus dapat kita buat seperti ini  :

 

Kinetik Value = Energy Content – (Panas + Guncangan mesin + Suara)

 

Kinetik Value tidak akan kita temukan pada literatur mana pun. Kita gunakan Kinetik Value karena besaran ini lebih mudah merepresentasikan kinerja solar dibandingkan dengan Energy Content. Semakin tingggi Kinetik Value dihasilkan dari Energy Content, semakin tinggi efisiensi mesin.

Cetane Number dan Kinetik Value merupakan padanan dari RON (Research Octane Number) dan MON (Motor Octane Number) pada bahan bakar bensin. Karena nilai RON dan MON tertentu selalu berpasangan dengan nilai rasio kompresi mesin (CR) tertentu, maka nilai Cetane Number dan Kinetik Value pun selalu berpasangan dengan nilai rasio kompresi mesin (CR) tertentu.

Suatu solar yang memiliki Cetane Number dan Kinetik Value yang cocok dengan nilai rasio kompresi mesin tertentu pada mesin berbasis solar, akan menghasilkan kinerja paling maksimum dengan power yang paling maksimal dan penghematan bahan bakar paling baik, disamping guncangan mesin terkecil, suara mesin yang lebih halus dan panas mesin yang tidak terlalu panas dan stabil.

 

Karakteristik Pendukung  : Machine Caring dan Eco Green

Machine Caring didefinisikan sebagai tingkat kualitas perawatan mesin. Semakin baik kualitas perawatan mesin, semakin lama umur layan mesin dan semakin kecil nilai depresiasi mesin.

Eco Green didefinisikan sebagai  kemampuan untuk meminimalisir atau mereduksi efek negatif yang dihasilkan dari pembakaran mesin berbasis solar pada manusia dan lingkungan.

Pada praktiknya, Machine Caring meliputi beberapa aspek pada solar seperti : detergency, lubricity, stability, performance at cold temperature, dan juga fuel system protection. Di samping aspek-aspek tersebut mungkin saja ada penambahan aspek pada kondisi-kondisi tertentu selama bertujuan untuk meningkatkan kualitas perawatan mesin dan umur layan mesin.

Baik untuk Machine Caring maupun Eco Green, peningkatan kualitas ini didapat dengan menambahkan aditif-aditif pada solar dengan kadar tertentu.

SOLAR DI INDONESIA

Mesin-mesin yang menggunakan bahan bakar solar di Indonesia adalah mesin-mesin industri (yang mensyaratkan CN/Cetane Number 45 s/d 49), mobil dan kendaraan-kendaraan besar (CN 45 untuk kendaraan lama, CN 50 untuk kendaraan baru), mesin perahu dan kapal laut (CN 45 s/d 49) ataupun mesin-mesin kecil pendukung industri kecil (CN 45 s/d 49). Bahkan untuk kendaraan-kendaraan bus dan truk yang berumur lebih lama persyaratan CN yang diminta adalah 42 s/d 44.

Sementara melihat standar solar-solar yang diperjualbelikan di Indonesia, CN yang dimiliki adalah sebagai berikut  :

Jenis Solar Cetane Number
Solar (biasa / bersubsidi) 46 s/d 48
Biosolar (bersubsidi) 48 s/d 50
Solar (Perusahaan Asing) 48 s/d 50
Solar Premium 53

Bisa kita lihat bahwa CN untuk semua jenis solar tidak kurang dari 46. Artinya semua mesin-mesin, kecuali untuk jenis mobil-mobil baru dan kendaraan besar baru, seharusnya masih bisa menggunakan solar-solar tersebut di atas. Apalagi untuk bus dan truk yang sudah tua umurnya, hanya solar biasa/bersubsidi yang cocok mengingat CN untuk jenis solar lain lebih tinggi sehingga penggunaan jenis solar selain solar biasa/bersubsidi malah merusak mesin. ( Note : Adalah informasi yang salah yang menyatakan bahwa semakin tinggi CN, semakin bagus solar tersebut untuk semua jenis mesin. Informasi yang benar adalah tiap jenis mesin akan mensyaratkan Cetane Number tertentu. Maka jenis solar yang boleh untuk dipergunakan untuk mesin tersebut adalah -3<CN yang disyaratkan<+3 )

Pertanyaan baru muncul, kalau memang penggunaan CN sudah memenuhi persyaratan mesin, mengapa pada kenyataannya penggunaan solar-solar bersubsidi sering kali membuat mesin-mesin lebih cepat rusak dibandingkan dengan penggunaan jenis solar lain? Jawabannya adalah karena solar-solar tersebut memiliki Kinetik Value yang rendah dan Karakteristik Pendukung yang buruk. Peningkatan pada Kinetik Value dan Karakteristik Pendukung dengan kadar yang tepat akan mengubah kualitas solar-solar tersebut menjadi solar dengan mutu tinggi. Solar dengan mutu tinggi akan menghasilkan performa mesin yang sempurna sehingga tidak saja umur layan mesin bertambah tapi juga menghasilkan emisi gas buang yang lebih ramah lingkungan.

 

HI-CESTER (CETANE SYSTEM OPTIMIZER)

HI-CESTER didesain untuk meningkatkan Kinetik Value dan Karakteristik Pendukung. Ia tidak didesain untuk meningkatkan Cetane Number. Walaupun ada sedikit kenaikan CN dengan penggunaan HI-CESTER, tapi kenaikannya tidak signifikan (0,5 s/d 1 Cetane), sehingga tidak akan terasa efeknya.

Pada Biosolar maupun Solar biasa, penggunaan HI-CESTER sesuai dosis akan meningkatkan Kinetik Value dan Karakteristik Pendukung cukup tinggi. Inilah sebenarnya sasaran utama pengguna HI-CESTER. Peningkatan kualitas yang cukup tinggi akan menghasilkan kinerja mesin yang optimal dengan mesin yang lebih terawat. Mesin akan lebih hemat bahan bakar dengan depresiasi mesin yang lebih kecil sehingga turut membantu penghematan yang cukup signifikan baik untuk mesin industri maupun mesin kendaraan.

Bagi para pengguna solar-solar jenis lain pun, HI-CESTER masih tetap meningkatkan Kinetik Value dan Karakteristik Pendukung walaupun dengan peningkatan yang lebih kecil.

Penggunaan HI-CESTER yang terus menerus akan menghasilkan mesin / kendaraan yang  :

  • Menghasilkan emisi gas buang yang sangat sedikit mengeluarkan asap hitam
  • Menghasilkan emisi gas buang yang ramah bagi manusia dan lingkungan
  • Bersuara dan bergetar jauh lebih halus
  • Lebih hemat bahan bakar
  • Mesin yang bersih dari kerak dan lumpur mesin
  • Memiliki umur layan yang lebih lama.

cester-bio copy

Produk Hi-Cester dapat dipesan melalui

Kang Iwan
085793267111
ridwansoleh@rocketmail.com