Dynotest Report

Sebagai bagian dari program kami dalam memberikan pengetahuan dan pelayanan terbaik bagi para pengguna produk HI-OCTAN dan HI-OCTAN RACING , pada hari sabtu, tanggal 23 April 2013 telah dilaksanakan Dynotest yang bertempat di Budi Jaya Motor (BJM), jalan Rancabolang, Bandung. Testnya sendiri dilaksanakan selama kurang lebih 1 jam, ditambah persiapan-persiapan dan pembuatan Separate Tank (dibuat dengan menggunakan botol air minum 1,2 liter dengan tutup yang dilubangi), waktu total yang dibutuhkan untuk melaksanakan test adalah selama 3 jam.

Konsep Pengujian bahan bakar dengan Dynotest
Sebenarnya Dynotest sendiri adalah sebuah test yang digunakan untuk menguji kinerja/performa mesin kendaraan. Ia bukanlah test untuk pengujian bahan bakar. Karenanya parameter yang diukur pada Dynotest adalah RPM (Rotation Per Minute), Torque, dan Power yang merupakan fungsi dari RPM dan Torque. Banyak sekali faktor yang bisa mempengaruhi kinerja/performa kendaraan, diantaranya : jenis mesin, cc mesin, umur mesin kendaraan, berat pengendara, jenis bahan bakar yang digunakan, jenis oli/pelumas yang digunakan, suhu kendaraan pada saat pengujian, suhu dan tekanan udara pada saat pengujian, kelembaban udara, dan masih banyak lagi faktor lainnya yang tidak tertuliskan di sini.

Untuk pengujian bahan bakar dengan menggunakan Dynotest, konsep termudahnya adalahmembandingkan jenis bahan bakar yang akan kita uji dengan beberapa bahan bakar standar yang ada di pasaran, sementara faktor-faktor lainnya yang mempengaruhi kendaraan harus kita buat sama sehingga faktor-faktor lainnya tersebut dapat kita abaikan pada saat hasil pengujian didapat. Karenanya untuk pengujian HI-OCTAN dan HI-OCTAN RACING 100 dengan menggunakan Dynotest, kita akan menggunakan satu kendaraan yang sama, satu pengendara yang sama tanpa ada pengubahan apapun pada kendaraan, baik itu penggantian oli, penggantian onderdil kendaraan ataupun penggantian-penggantian lainnya termasuk penetapan suhu kendaraan pada saat pengujian. Juga waktu pengujian harus relatif singkat, yaitu sekitar satu jam agar faktor-faktor yang mempengaruhi kendaraan dapat kita abaikan, dan hanya berfokus pada pengujian bahan bakar saja.

Bahan bakar pembanding haruslah bahan bakar standar yang ada di pasaran (Apple to Apple). Di Indonesia bahan bakar standar yang ada hanyalah 3 jenis, yaitu : bahan bakar bersubsidi biasa dengan Ron 88, bahan bakar beroktan tinggi dengan RON 92 dan bahan bakar beroktan tinggi dengan RON 95. Karena itu pengujian haruslah dibandingkan pada bahan bakar standar ini sehingga kita akan bisa menilai kinerja/performa bahan bakar yang akan diuji, bagus atau tidak, secara objektif.

HI-OCTAN & HI-OCTAN RACING 100 Go Dyno

Jenis kendaraan yang kita gunakan untuk Dynotest adalah YAMAHA JUPITER MX. Kendaraan ini kami pilih karena beberapa hal berikut :

    • Pemilik kendaraan ini bukanlah seorang penggemar utak atik motor. Karena itu kendaraan ini masih tetap standar sesuai spesifikasi pabrikan tanpa modifikasi apapun pada mesin (kecuali penggantian knalpot dengan knalpot racing) dengan pola service yang teratur. Pemilik kendaraan ini juga terbiasa menggunakan bensin biasa RON 88 sebagai bahan bakarnya. Kami yakin bahwa kendaraan ini dapat mewakili kinterja/performa kebanyakan kendaraan pribadi di Indonesia.
  • Memiliki rasio kompresi mesin (CR) 10,9 : 1. Termasuk kompresi mesin yang tinggi dan seharusnya mensyaratkan bensin RON 95 sebagai bahan bakar kendaraan ini. Karena itu kita akan membandingkan HI-OCTAN dan HI-OCTAN RACING dengan bensin RON 95 untuk mengetahui kinerja HI-OCTAN dan HI-OCTAN RACING secara objektif.

Sebelum kita menuju proses Dynotest sebelumnya kami akan menerangkan sedikit tentang HI-OCTAN dan HI-OCTAN RACING 100. HI-OCTAN adalah aditif untuk bensin biasa RON 88, sementara HI-OCTAN RACING 100 adalah aditif untuk bensin beroktan tinggi RON 92. Bensin yang telah menggunakan kedua aditif ini akan meningkat nilai oktannya, disamping itu memiliki unsur-unsur lain yang berfungsi untuk merawat mesin dan menghasilkan asap knalpot yang lebih ramah lingkungan.

Dosis HI-OCTAN adalah 1234/2, atau bisa dijabarkan sebagai berikut :

  • 2 liter bensin biasa RON 88 + 1 ml HI-OCTAN untuk kompresi mesin 8,1 : 1 s/d 9 : 1 (setara RON 90)
  • 2 liter bensin biasa RON 88 + 2 ml HI-OCTAN untuk kompresi mesin 9,1 : 1 s/d 10 : 1 (setara RON 92)
  • 2 liter bensin biasa RON 88 + 3 ml HI-OCTAN untuk kompresi mesin 10,1 : 1 s/d 10,7 : 1 (setara RON 95)
  • 2 liter bensin biasa RON 88 + 4 ml HI-OCTAN untuk kompresi mesin 10,8 : 1 s/d 11,4 : 1 (setara RON 97)

Dosis HI-OCTAN RACING 100 adalah 1234, atau bisa dijabarkan sebagai berikut :

  • 1 liter bensin RON 92 + 1 ml HI-OCTAN R100 untuk kompresi mesin 10,1 : 1 s/d 11 : 1 (setara RON 96)
  • 1 liter bensin RON 92 + 2 ml HI-OCTAN R100 untuk kompresi mesin 11,1 : 1 s/d 12 : 1 (setara RON 100)
  • 1 liter bensin RON 92 + 3 ml HI-OCTAN R100 untuk kompresi mesin 12,1 : 1 s/d 13 : 1 (setara RON 104)
  • 1 liter bensin RON 92 + 4 ml HI-OCTAN R100 untuk kompresi mesin 13,1 :1 s/d 14 : 1 (setara RON 108)

Dengan menggunakan kendaraan Yamaha Jupiter MX, kami akan menguji 4 jenis bensin, yaitu :
1. Bensin RON 88 + HI-OCTAN 4 ml/2 liter sehingga menjadi setara bensin RON 97
2. Bensin RON 92 + HI-OCTAN R100 1 ml/liter sehingga menjadi setara bensin RON 96

Dan sebagai pembanding dari kedua jenis bensin di atas adalah :
3. Bensin RON 88
4. Bensin RON 95

Dynotest dan Hasil Pengujian

Setelah persiapan selesai dilaksanakan, kurang lebih pukul 14.00 pengujian Dynotest dimulai. Empat buah Separate Tank buatan sudah diisi dengan 4 jenis bensin untuk diuji. Separate Tank pertama yang berisi bensin RON 88 mulai disambungkan melalui selang ke mesin motor. Motor dihidupkan dan dibiarkan sampai suhu kendaraan mencapai suhu yang ditetapkan. Beberapa menit kemudian suhu yang diharapkan tercapai. Operator dynotest yang merangkap sebagai pengendara motor mulai melaksanakan test. Tidak berapa lama kemudian test selesai dan didapat hasil sebagai berikut :

Dynotest dan Hasil Pengujian

Sebelum kita menganalisis hasil pengujian, pertama-tama sedikit teori dasar tentang pembacaan hasil dynotest akan kami paparkan di bawah ini :
Dynotest hanya mengukur 2 (dua) hal secara berhubungan, yaitu : RPM dan Torsi (Torque) pada RPM tertentu. Adapun Power merupakan fungsi dari RPM dan Torsi yang dihitung berdasarkan rumus :

Power (HP) = Torque(lbs) * RPM/5252

Rumus ini yang digunakan karena Dyno di BJM menggunakan satuan Eropa dan bukan satuan Metriks. Karena itu bisa kita lihat bahwa grafik-grafik hasil pengujian di atas selalu mengukur RPM di atas 5252, karena pada RPM di bawah 5252 nilai Power selalu di bawah Torsi, menjadi sama pada saat RPM 5252 dan secara perlahan meningkat di atas Torsi dan menjauh seiring dengan meningkatnya nilai RPM sampai batas tertentu.

Pergerakan pola Torsi pada grafik akan selalu konsisten dengan akselerasi kecepatan kendaraan saat melaju di jalan raya. Bila pada RPM tertentu pola torsi pada grafik meningkat/menurun konsisten, maka pada RPM tersebut akselerasi kendaraan saat melaju di jalan raya akan meningkat/menurun secara konsisten pula. Bila tidak konsisten, maka akselerasi kecepatan pun tidak konsisten. Idealnya nilai Torsi yang terbaik adalah nilai torsi yang semakin mendekati rata secara horizontal (horizontal flat) dengan angka Power yang tertinggi (Ivan, AMS Special Project Technician, amsperformance.com).

Adapun Power merefleksikan kemampuan kendaraan tersebut mencapai kecepatan maksimumnya. Semakin tinggi nilai Power dicapai pada saat Dynotest oleh kendaraan tertentu, maka semakin tinggi pula kemampuan kendaraan tersebut mencapai kecepatan maksimumnya. Dan apabila Dynotest digunakan untuk membandingkan kinerja/performa beberapa bahan bakar, maka nilaiPower tertinggi merefleksikan semakin cocoknya bahan bakar tersebut dengan kendaraan yang diuji, menghasilkan energi terbesar dan menghasilkan penghematan bahan bakar tertinggi pula.

Selanjutnya mari kita mulai untuk menganalisis grafik-grafik hasil pengujian :

1. Dari Grafik Compare 1, bisa kita lihat dari perbandingan antara bensin RON 88 dengan RON 88 + HI-OCTAN, bahwa pada RON 88 +HI-OCTAN terjadi kenaikan max power maupun max torsi. Max power meningkat sebesar (10,5 ? 9,7) = 0,8 HP sementara max torsi meningkat sebesar (9,76 ? 8,92) = 0,84 lbs. Suatu peningkatan kualitas bahan bakar yang sangat tinggi dibandingkan dengan RON 88 sebelum ditambah HI-OCTAN sebanyak 2 ml/liter. Apabila kita melihat grafik torsi, grafik torsi RON 88 lebih mendekati horizontal dibandingkan dengan RON 88 + HI-OCTAN, tetapi RON 88 + HI-OCTAN lebih flat, artinya secara konsistensi akselerasi kecepatan, RON 88 + HI-OCTAN lebih konsisten dengan penurunan torsi yang sedikit lebih tinggi dibandingkan RON 88.

Kemudian apabila kita lihat perbandingan antara RON 95 dengan RON 88 + HI-OCTAN, pada RON 88 + HI-OCTAN menghasilkan kenaikan max power lebih tinggi dibandingkan RON 95 sebesar (10,5 ? 10) = 0,5 HP sementara pada max torsi RON 88 + HI-OCTAN sedikit di bawah RON 95 sebesar (9,93 ? 9,76) = 0,17 lbs. Grafik torsi untuk RON 88 + HI-OCTAN memiliki kestabilan dan jauh lebih mendekati horizontal dibandingkan dengan grafik torsi RON 95. Karena itu, konsistensi akselerasi jauh lebih baik RON 88 + HI-OCTAN bila dibandingkan dengan RON 95.

2. Dari Grafik Compare 2, bisa kita lihat perbandingan antara bensin RON 88 dengan RON 92 + HI-OCTAN R100, pada RON 92 + HI-OCTAN R100 terjadi kenaikan max power maupun max torsi. Max power meningkat sebesar (10,3 ? 9,7) = 0,6 HP sementara max torsi sebesar (9,74 ? 8,92) = 0,62 lbs. Suatu peningkatan power dan torsi yang tinggi dibandingkan dengan RON 88. Dan dari grafik torsi bisa kita lihat bahwa grafik RON 92 + HI-OCTAN R100 lebih mendekati horizontal dan lebih flat sehingga konsistensi akselerasi kecepatan lebih baik dibandingkan dengan RON 88.

Kemudian apabila kita bandingkan antara RON 95 dengan RON 92 + HI-OCTAN R100, pada RON 92 + HI-OCTAN R100 kenaikan max power lebih tinggi dibandingkan RON 95 sebesar (10,3 ? 10) = 0,3 HP sementara pada max torsi RON 92 + HI-OCTAN R100 sedikit di bawah RON 95 sebesar (9,93 ? 9,74) = 0,19 lbs. untuk grafik torsi, RON 92 + HI-OCTAN R100 jauh lebih mendekati horizontal flat dibandingkan dengan grafik RON 95. Maka, konsistensi akselerasi jauh lebih baik RON 92 + HI-OCTAN R100 dibandingkan dengan RON 95.

3. Sesuai dengan hasil power max dan kestabilan torsi, berturut-turut adalah bahan bakar Terhemat sampai dengan yang paling boros pada uji ini : RON 88 + HI-OCTAN, RON 92 + HI-OCTAN R100, RON 95, RON 88.

Kesimpulan Akhir

  1. HI-OCTAN yang ditambahkan sebanyak 4 ml ke dalam 2 liter bensin RON 88 mampu meningkatkan kinerja/performa bensin RON 88 sangat tinggi, bahkan sedikit di atas kinerja bensin RON 95 untuk uji pada motor Yamaha Jupiter MX (CR 10,9 : 1). Peningkatan kinerja itu meliputi peningkatan power, kestabilan akselerasi peningkatan kecepatan, dan penghematan bahan bakar.
  2. Begitu pula untuk HI-OCTAN RACING 100 yang ditambahkan sebanyak 2 ml ke dalam 2 liter bensin RON 92, juga mampu untuk meningkatkan kinerja/performa tinggi, sedikit di atas kinerja bensin RON 95 untuk uji pada motor Yamaha Jupiter MX (CR 10,9 : 1). Peningkatan kinerja meliputi peningkatan power, kestabilan akselerasi peningkatan kecepatan serta penghematan bahan bakar.